Apa Itu Mazhab

Mungkin kita pernah berfikir kenapa harus ada mazhab dan tidak langsung saja mengacu kepada Qur’an dan Sunnah ?Jadi satu aliran saja. Dan ada juga orang yg mengambil sikap, ah gw gak ikut mazhab ini mazhab itu, atau gak NU gak Muhammadiyah atau Persis misalnya. Mari kita bahas sedikit tentang apa mazhab, bagaimana sikap kita tentang ini, apa mengambil kesimpulan hukum sendiri langsung dari Quran dan Sunnah?

Banyaknya mazhab itu tidak ada kaitannya dengan perpecahan, apalagi permusuhan di dalam tubuh umat Islam. Sebaliknya, banyaknya mazhab dan pendapat itu justru menunjukkan sangat dinamisnya syariat Islam, serta sangat luasnya wilayah ijithad. Banyak latar belakang perbedaan pendapat yang menyebabkan banyaknya versi kesimpulan hukum, atau mazhab. Adanya nash-nash yang secara zahir saling brtentangan, baik antara Quran dengan Quran, atau antara Quran dengan hadits, atau antara hadits dengan hadits.

Adanya celah penafsiran dan kesimpulan hukum yang berbeda di dalam satu dalil yang sama. Adanya perbedaan status dan derajat keshaihan suatu hadits, sehingga sebagai ulama menerima suatu hadits karena menurutnya shahih. Namun sebagian lainnya menolak keshahihan hadits itu dan tidak mau menjadikannya sebagai dalil karena menganggap dhoif. Adanya perbedaan penggunaan istilah-istilah fiqih antara masing-masing mazhab meski sekilas berbeda, namun boleh jadi esensinya justru sama dan sejalan. Adanya ‘urf dan kebiasaan masyarakat yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Bahkan Rasulullah sendiri pernah berbeda pendapat dengan para sahabat dalam hasil ijtihadnya,justru ijtihad sahabatnya yg dibenarkan Allah.

Mazhab secara bahasa artinya adalah tempat untuk pergi. Berasal dari kata zahaba – yazhabu – zihaaban. Sedangkan secara istilah, mazhab adalah sebuah metodologi ilmiyah dalam mengambil kesimpulan hukum dari kitabullah dan Sunnah Nabawiyah. Mazhab yang kita maksudnya di sini adalah mazhab fiqih. Mazhab tidak hanya empat saja. Sesungguhnya mazhab fiqih itu bukan hanya ada 4 saja, tetapi masih ada banyak lagi yang lainnya. Bahkan jumlahnya bisa mencapai puluhan. Nah, yang kita kenal 4 mazhab sekarang ini adalah karena keempatnya merupakan mazhab yg telah terbukti sepanjang zaman bisa tetap bertahan. Usia 4 mazhab tersebut sudah lebih dari 1000 tahun, subhanallah.

Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah adalah empat dari sekian puluh mazhab yang pernah berkembang. Banyak orang salah sangka bahwa adanya mazhab fiqih itu berarti sama dengan perpecahan, sebagaimana berpecah umat lain dalam sekte-sekte. Sehingga ada dari sebagian umat Islam yang menjauhkan diri dari bermazhab, bahkan ada yang sampai anti mazhab. Penggambaran yang absurd tentang mazhab ini terjadi karena keawaman dan kekurangan informasi yang benar tentang hakikat mahzab fiqih. Adanya mazhab itu memang merupakan kebutuhan asasi untuk bisa kembali kepada Al-Quan dan As-Sunnah. Setiap orang yang berupaya untuk memahami kedua sumber ajaran Islam itu ( Al quran & hadist), pada hakikatnya sedang bermazhab. Tidak ada di dunia ini orang yang tidak bermazhab.

Semua orang bermazhab, baik dia sadari atau tanpa disadarinya. Lalu bolehkah seseorang mendirikan mazhab sendiri? Jawabnya tentu saja boleh, asalkan dia mampu meng-istimbath sendiri setiap detail ayat Al-Quran dan As-sunnah. Namun ke-4 mazhab yang ada di dalamnya telah berkumpul ratusan bahwa ribuan ulama ahli level tertinggi yang pernah dimiliki umat Islam. Mereka bekerja siang malam untuk menghasilakn sistem fiqih Islami yang siap pakai serta user friendly/ biar bisa dipahami umat. Meninggalkan mazhab-mazhab itu sama saja bikin kerjaan baru, yang hasilnya belum tentu lebih baik. Jadi berpikirlah untuk bikin yg baru. Seorang yang tingkat keilmuwannya sudah mendalam semacam Al-Imam al-Ghazali rahimahullah sekalipun tetap mengacu kepada salah satu mazhab yang ada. Beliau tetap bermazhab meski sudah pandai mengistimbath hukum sendiri yaitu mazhab As-Syafi’iyah. Jadi tetap lah berpijak pada Al quran dan Sunnah soal pilihan mazhab itu ada di hati masing-masing. Islam itu Damai ,Wallahu a’lam bishshawab.

source:  Qur’an dan Sunah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s